Jadi freelancer itu kayak dua sisi koin. Satu sisi, kamu bebas ngatur waktu sendiri. Sisi lain, kadang pemasukan nggak tetap dan tabungan sering dipakai buat nutup bulan yang sepi proyek. Wajar kalau kemudian muncul pikiran: "Kapan gue bisa jalan-jalan, ya?"
Gue pernah di titik itu. Dua tahun jadi penulis lepas, rekening nggak pernah benar-benar gemuk. Tapi justru di masa-masa tipis itu gue malah sempat keliling beberapa tempat di Indonesia. Bukan karena tiba-tiba dapat klien besar, tapi karena gue mengubah cara pandang soal liburan itu sendiri.
Baca juga: Dompet Tipis Bikin Gagal Liburan? Ini Trik Jalan Murah ala Anak Kos
Mulai dari yang Dekat Dulu, Jangan Langsung Mimpi ke Luar Negeri
Kesalahan gue dulu adalah menganggap traveling harus ke tempat yang jauh dan mahal. Padahal Indonesia ini luas banget, dan banyak tempat menarik cuma berjarak beberapa jam dari kota tempat kita tinggal. Coba deh cek lagi, ada nggak danau, gunung, atau pantai yang bisa dijangkau dengan bus atau kereta ekonomi dari kotamu?
Gue contohkan pengalaman sendiri. Awalnya gue cuma naik motor ke sebuah curug di kaki gunung, sekitar 40 kilometer dari rumah. Modal bensin nggak sampai tiga puluh ribu, bawa bekal nasi bungkus dari rumah. Ternyata rasanya segar banget. Sejak itu gue sadar, yang bikin liburan berkesan bukan jaraknya, tapi niat buat keluar dan menikmati hal baru.
Kalau kamu di Jawa, ada banyak pilihan murah: jalur pedesaan di kaki Merapi, pantai-pantai di Gunungkidul yang tiket masuknya masih belasan ribu, atau kota kecil seperti Salatiga dan Muntilan yang punya suasana tenang. Di luar Jawa juga sama, cuma perlu sedikit riset.
Atur Waktu di Sela Proyek, Bukan Nunggu Proyek Selesai
Ini poin yang sering dilupakan pekerja lepas. Kita cenderung menunda liburan sampai semua proyek kelar. Masalahnya, proyek nggak pernah benar-benar kelar. Selalu ada revisi, selalu ada klien baru. Kalau nunggu kosong, kamu bakal nunggu selamanya.
Yang gue lakukan: menyisipkan liburan pendek di antara tenggat. Misalnya, kalau ada jeda dua hari sebelum proyek berikutnya masuk, gue manfaatkan buat pergi ke tempat terdekat. Nggak perlu cuti panjang, cukup satu malam menginap atau bahkan day trip. Hasilnya, kepala lebih segar dan justru lebih produktif waktu balik kerja.
Liburan buat freelancer itu bukan hadiah setelah kerja keras, tapi bagian dari cara menjaga kerja keras itu tetap waras.
Kamu juga bisa memanfaatkan momen ketika klien sedang lambat membalas. Daripada bengong menunggu email, mending jalan sebentar. Asal tetap bawa laptop dan pastikan ada sinyal, semuanya aman.
Modal Kecil Bukan Halangan, Asal Tahu Caranya
Soal uang, ini yang paling bikin banyak orang mundur. Tapi sebenarnya ada banyak cara menekan biaya tanpa mengorbankan pengalaman. Gue biasa pakai beberapa trik sederhana yang terbukti ampuh.
- Pergi di hari kerja. Harga penginapan dan tiket biasanya lebih murah, dan tempat wisata jauh lebih sepi. Ini keuntungan besar jadi freelancer yang bisa ngatur jadwal sendiri.
- Pilih penginapan sederhana. Homestay atau guesthouse lokal sering lebih murah dan suasananya lebih hangat dibanding hotel. Kadang pemiliknya malah kasih tips tempat makan enak yang nggak ada di internet.
- Bawa bekal dan botol minum. Kedengarannya sepele, tapi pengeluaran makan di tempat wisata bisa bengkak. Gue selalu bawa botol minum kosong dan isi ulang di penginapan.
- Manfaatkan transportasi umum. Bus, angkot, atau kereta lokal jauh lebih murah daripada sewa mobil. Sekalian bisa ngobrol sama warga lokal, yang sering jadi bagian paling seru dari perjalanan.
- Sisihkan sedikit tiap dapat bayaran. Nggak perlu besar. Gue biasa menyisihkan lima persen dari tiap proyek ke "celengan jalan-jalan". Dalam beberapa bulan, jumlahnya cukup buat satu perjalanan pendek.
Riset Ringan, Jangan Kebanyakan Rencana
Freelancer biasanya suka riset karena terbiasa kerja teliti. Tapi buat liburan murah, jangan overthinking. Cukup cari tahu transportasi, satu atau dua tempat makan, dan penginapan. Sisanya biarkan mengalir. Malah seringnya, momen paling berkesan datang dari hal yang nggak direncanakan, seperti warung nasi yang ditemukan di pinggir jalan atau warga yang ngajak ngobrol sambil nunjukin spot foto tersembunyi.
Jalan-Jalan Bikin Kerja Lebih Baik
Ini opini pribadi gue, dan mungkin kamu bakal setuju setelah mencoba. Perjalanan, sekecil apa pun, ngasih perspektif baru. Waktu gue nulis artikel setelah pulang dari perjalanan singkat, ide-idenya terasa lebih segar. Kadang gue juga dapat inspirasi dari obrolan dengan orang-orang yang ditemui di jalan.
Buat pekerja lepas, kesehatan mental itu aset utama. Kalau terus-terusan kerja tanpa jeda, kreativitas bakal kering. Jalan-jalan murah, bahkan cuma sehari, bisa jadi cara paling efektif buat mengisi ulang energi.
Jadi, jangan tunggu dompet tebal atau jadwal kosong sempurna. Mulai dari tempat terdekat, sisihkan sedikit uang tiap dapat bayaran, dan manfaatkan jeda antar proyek. Perjalanan nggak harus mahal atau jauh untuk terasa berarti. Kadang yang kamu butuhkan cuma keberanian buat keluar rumah dan menikmati hal-hal sederhana di sekitar.